Showing posts with label film keluarga. Show all posts
Showing posts with label film keluarga. Show all posts

Thursday, February 2

Berdiri di Atas Kaki Sendiri


Judul Film: Ocean Heaven
Pemain: Jet Li, Zhang Wen, Lunmei Kwan
Tahun rilis: 2010
Sutradara: Xue Xiaolu
Produser: William Kong, Hao Lee, Ma Hefeng

Film ini bercerita tentang kekuatan hubungan Ayah dan Anak. Ini adalah film drama pertama yang dibintangi oleh Jet Li. Dalam film ini juga kita bisa belajar banyak tentang kasih sayang, kesabaran dan semangat pantang menyerah, selain juga menerima kelebihan dan kekurangan seorang penderita autistik. Film ini dimulai dengan cerita menyedihkan dimana sang ayah ingin menenggelamkan dirinya beserta anaknya ke dasar samudera. Ia mengikat kakinya dengan batu sebagai pemberat, tapi anaknya yang tidak faham apa-apa, berusaha sekuat tenaga untuk berenang, dan mereka selamat.

Sam Wong (Jet Li) hampir putus asa, ia mengkhawatirkan anaknya. Dengan penyakit kanker ganas yang dimilikinya, ia masih harus mengurus anaknya, Dafu (Zhang Wen) yang mengidap autistik. Hingga usianya sekarang 20 tahun, Dafu masih harus dibantu dalam melakukan banyak hal. Sam harus segera menjadikan Dafu mandiri, untuk persiapan kelak jika dirinya meninggal dunia. Dengan sabar ia melatih Dafu: memasak, naik kendaraan umum dan menghafal jalan, memakai dan melepas pakaian, bekerja, membereskan rumah, dan lain sebagainya. Berulang kali ia menekankan pada Dafu, bahwa pada suatu hari nanti ayahnya akan pergi selamanya, dan Dafu harus tetap menjalani kehidupannya sendiri. Banyak scene mengharukan saat Dafu harus frustasi karena kesalahan yang dilakukannya. Misalnya saat ia harus naik kendaraan umum sendirian dan ternyata menyebabkan keributan, atau saat masak dan tidak berhasil memecahkan sebutir telur, atau saat bekerja. Sam bekerja di sebuah aquarium air laut di dekat rumahnya. Karena Dafu sangat mahir dalam berenang, ia seringkali mengikuti Sam ke tempat kerjanya. Dafu diberikan satu tanggung jawab dari tempat kerja Sam, yaitu memberi makan ikan sambil berenang. Dafu sangat suka ‘berbicara’ dengan hewan. Pada satu ketika saat ayahnya hampir tenggelam, Dafu memanggul ayahnya. Sejak itu, Sam menanamkan pada Dafu bahwa kelak ayahnya akan pergi dan menjelma menjadi penyu, untuk terus berada di samping Dafu.

Karena kondisinya yang semakin parah, Sam mulai mencari alternatif tempat tinggal untuk Dafu. Ia menelpon beberapa panti asuhan, namun tidak ada yang mau menerima karena usia Dafu yang sudah dewasa. Saat hampir putus asa, Sam kembali ke sekolah lama Dafu dan memohon mereka untuk mengurus Dafu kelak jika ia sudah tidak ada. Ikatan yang sudah terbentuk antara Ayah-Anak itu, membuat Dafu sempat mogok saat ditinggal sendirian di rumah penampungan tersebut. Ia bahkan tidak mau disentuh orang lain untuk sekedar menggantikan bajunya. Dengan berat hati Sam akhirnya ikut tinggal di tempat tersebut dan perlahan melatih Dafu kembali.

Dafu juga mengalami satu kisah cinta di lokasi kerja Sam. Pada satu ketika, Dafu bertemu dengan Ling Ling (Lunmei Kwai ) yang bekerja sebagai seorang badut di sirkus dekat aquarium ayahnya. Dengan caranya sendiri, ia jatuh cinta pada Ling Ling. Namun sayang, karena habis masa kerjanya, Ling harus mengikuti rombongan sirkusnya untuk pindah ke tempat lain. Sebelum pergi, Ling Ling mengajarkan Dafu untuk berbicara melalui pesawat telepon.

Bagaimanakah ending dari film ini? Bisakah Dafu menerima tentang konsep kematian yang ditanamkan oleh Sam? Lalu bagaimana cerita hidup Dafu selanjutnya? Silahkan cari dividi-nya ato bisa gugling untuk donload ^_^

Kelebihan film ini adalah pada nilai-nilai implisit yang diangkat. Cinta. Tema abadi sepanjang masa, tak lekang zaman dan tak kenal usia. Cinta seorang ayah terhadap anaknya, cinta seorang manusia terhada sesama, dibungkus rapi dan ditampilkan dengan haru dalam film ini. Satu catatan penting untuk para orang tua. Kita harus sadar bahwa kita tidak akan hidup selamanya. Seorang anak memang akan bersandar pada orang tuanya, namun orang tua harus mengajarkan bahwa seorang anak harus berdiri di atas kakinya sendiri, menjadi mandiri sebenar-benarnya.

Kekurangan film ini? Ga ada actionnya, hehehe... Kerenlah pokoke ^_^



»»  Selengkapnya...

Tuesday, January 31

Aku Punya Hak terhadap Diriku Sendiri


Aku Punya Hak Terhadap Diriku Sendiri

Judul film: My Sister’s Keeper
Pemain: Sofia Vassilieva, Cameron Diaz, Abigail Breslin, Alec Baldwin
Sutradara: Nick Cassavetes
Tahun rilis: 2009
Genre: Keluarga
Diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Jodi Picoult (2004).


***


Saya menonton film ini saat tahun pertama mengajar di kelas 8-9 middle school. Rekan kerja saya adalah seorang guru sains, dan kebetulan saat itu sedang mengajarkan anak-anak tentang rekayasa genetika.  Kemudian ia merekomendasikan film ini, walaupun memang bukan film saintifik dan tidak banyak berkaitan, tapi cukup baik untuk membuat anak-anak tertarik terhadap pelajaran. Kisahnya memang rekaan, tapi sangat mungkin terjadi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kita. Desas desus yang pernah saya dengar dari teman saya ini sih, di Amrik sana sudah ada kloning untuk manusia –mirip dengan kisah yang diangkat dalam film ini– walaupun mengalami penentangan luar biasa dari berbagai kalangan. Untungnya, sebagaimana film bergenre keluarga lainnya, tidak ada kegiatan seksual yang terekspos di film ini, hanya kissing.


Anna Fitzgerald (Abigail Breslin) terlahir dari rekayasa genetika di dalam laboratorium, istilah kerennya,  bayi tabung. Tidak seperti proses bayi tabung lain yang dilakukan karena sulitnya terjadi pembuahan antara sperma dan ovum, Anna terlahir direncanakan. Ia direncanakan menjadi spare part- cadangan tubuh untuk kakaknya, Kate Fitzgerald (Sofia Vassilieva) yang mengidap penyakit Leukimia akut. Untuk mendapatkan zigot Anna, orang tua Kate telah melakukan berkali-kali pembuahan invitro (di dalam laboratorium), dan membuang puluhan zigot lain  yang diketahui tidak cocok dengan DNA Kate. *Padahal sesungguhnya setiap zigot yang tertanam dalam rahim pun adalah pilihan, sperma pemenang yang berhasil menjuarai kompetisi dengan sperma lain untuk membuahi sang ovum.*


Sejak masih bayi, Anna sudah bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup kakaknya. Belasan operasi sudah ia jalani dalam rangka menolong kakaknya ‘memperpanjang usia’. Beberapa kali ia juga melakukan transfusi darah, menerima puluhan suntikan di berbagai anggota tubuhnya, demi Kate.  Pada usianya yang ke 11, ia diminta untuk mendonorkan satu ginjalnya karena Kate divonis gagal ginjal. Operasi yang akan berdampak cukup serius bagi Anna, dan belum menjamin akan bisa menolong Kate. Kehilangan satu ginjal akan membuat Anna kelak terbatas dalam beraktivitas, lebih jauh lagi, ia sangat mungkin akan kesulitan memiliki anak. Anna berontak. Ia dengan dibantu kakak angkatnya, Jesse, menyewa seorang pengacara Campbell Alexander (Alec Baldwin) untuk menuntut kedua orang tuanya. Ia ingin mempunyai hak memutuskan tindakan medis apa yang akan ia ambil terhadap tubuhnya (medical emancipation). *Sebenarnya saya membayangkan pergolakan batin yang dirasakan Anna, antara rasa sayang terhadap kakaknya dan rasa peduli terhadap dirinya sendiri. Sayang hal ini kurang dieksplor di dalam film.*


Ibu Anna, Sara (Cameron Diaz) yang merupakan mantan pengacara, memutuskan untuk mewakili dirinya sendiri dalam ‘melawan’ tuntutan anaknya. Sara beberapa kali mengajak Anna berbicara dari hati ke hati tentang hal ini, memintanya untuk membatalkan tuntutan dan merelakan ginjalnya untuk Kate. Anna tetap menolak, bahkan ia semakin marah pada ibunya. Dengan bahasanya sendiri ia meminta ibunya untuk juga memandang kepentingannya, tidak melulu tentang Kate. Padahal di sisi lain, Anna dan Kate adalah saudara kandung yang sangat akrab. Dengan adanya tuntutan itu pun, keakraban mereka tidak berubah. Anna pun tetap dengan sepenuh hati mendampingi Kate melawan rasa sakitnya, merawatnya di rumah maupun menemani di rumah sakit. Sungguh Anna sayang Kate. Ia melayangkan tuntutan itu bukan karena ia lelah menjadi spare part, tapi ternyata sebaliknya yang terjadi. Apa alasan utama Anna mengajukan tuntutan, lalu apakah ia akan memenangkannya? Apa yang terjadi pada Kate selanjutnya? Bagaimana pula nasib Jesse yang seakan tidak dianggap dalam keluarga mereka? Temukan jawabannya saat menonton film ini ya ^_^


Walaupun memiliki sedikit perbedaan dengan novelnya, film ini sangat menyentuh. Kekuatan akting Anna, Kate dan Sara mengombang ambing perasaan penonton. Di satu pihak kita akan merasakan perjuangan pantang menyerah seorang ibu demi kesembuhan anaknya, di pihak lain akan jelas tergambar ketulusan pengorbanan seorang adik, dan rasa sayang seorang kakak. Drama keluarga yang dibungkus dengan sangat ciamik oleh sang sutradara. Sangat wajar jika Abigail, Cameron dan Sofia sebagai pemeran Anna, Sara dan Kate mendapat beberapa penghargaan dalam bidang akting melalui film ini.


Sedikit hal yang mengganggu adalah tentang peran Ayah yang tidak terlalu ditonjolkan di film ini. Ada, tapi terlalu dominan peran sang ibu. Tentang penokohan anak pertama mereka, Jesse, pun agak mengganggu. Jesse memang anak angkat. Saking sibuknya dengan Kate, orang tua mereka tidak sadar bahwa Jesse mengalami disleksia. Hal ini sebenarnya cukup bagus untuk dijadikan konflik tersendiri, tapi sepertinya sutradara memilih fokus kepada tiga pemeran perempuan. *Apa saya aja ya yang jadi sutradara :p*


Over all, keren lah filmnya. Worthed untuk ditonton....
»»  Selengkapnya...

Monday, January 30

Jangan Pernah Meninggalkan Partnermu


Sutradara: Alex Kendrick dan Stephen Kendrick
Produser : Michael Catt, Jim McBride, David Nixon / Sherwood Pictures and Provident Films
Pemain : Kirk Cameron, Erin Bethea, Alex Kendrick, Bailey Cave, Jason McLeod, Tommy McBride, Jim McBride, Janet Lee Dapper, Ray Wood, etc



Never leave your partner behind, especially on fire” (Fire Proof, 2008)


Dalam satu kata, film ini romantis. Tontonan yang bagus untuk pasangan, baik yang baru menikah dan masih berbulan madu, hingga pasangan yang sudah lama menikah dan menemukan kehampaan dalam hidup berkeluarga mereka. Tontonan yang sangat baik terutama bagi mereka yang menyepelekan arti pernikahan.


Film ini memang bercerita tentang api. Api secara harfiah karena sang tokoh, Kapten Caleb Holt, adalah seorang pemadam kebakaran; juga api secara kiasan karena pernikahannya sedang dalam kobaran ‘api’. Ungkapan untuk tidak meninggalkan partner kita, apalagi dalam api (keadaan bahaya), adalah doktrin yang selalu Caleb gemakan untuk dirinya serta timnya. Dalam film ini ia menunjukkan bahwa ungkapan itu juga berguna untuk menyelamatkan keluarganya.


Walaupun Caleb terbilang sukses menjadi pemadam kebakaran, di sisi lain, pernikahannya sedang diujung tanduk. Setelah sekian lama menikah dan tidak dikaruniai anak, mereka mulai menemukan kesibukan masing-masing. Gairah mulai hilang, sang suami tidak merasa nyaman berada di rumah, sang istri tidak merasa dihargai dan dicintai.... Lalu mereka hendak menyerah. Tapi dengan saran dari Ayahnya yang religius, Caleb bersedia menerima tantangan 40 hari dalam “Love Dare”.


Perubahan tidak pernah mudah, dan itu pula yang dialami Caleb. Dalam tantangan 40 hari tersebut, Caleb sedikit demi sedikit harus berubah. Mulai dari tidak membantah saat istrinya marah, menanyakan kabar teman-temannya, membantu membereskan rumah, berbelanja keperluan dapur, membelikan bunga, makan siang, hadiah, dst. One per day. Sulit memang, terutama dengan ego seorang suami yang merasa harus dihormati, dan Caleb hampir menyerah karena istrinya belum juga menunjukkan tanda-tanda berbaikan. Dengan adanya orang ketiga yang muncul dalam perkawinan mereka, masalah ekonomi dan religiusitas, membuat film ini memiliki jalan cerita yang menyentuh. Endingnya memang sangat bisa ditebak, another happy ending sebagaimana film romantis, tapi paling tidak membuat penonton merenungi kembali niat mereka dalam menjalani pernikahan.


Film ini memang dibuat sangat religius, terutama bagi umat Kristiani. Ada beberapa landasan agama yang diangkat, walaupun tidak mendominasi dan mengubah esensi dari filmnya. Pesannya jelas terbaca: membuat orang percaya kembali dengan lembaga pernikahan, bahwa kita bisa bahagia bukan karena pasangan kita sempurna, tapi karena saling menerima. Mungkin kalau bahasa Al-Qur’annya adalah “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah:187)” Saling melengkapi, saling memberi dan meneriman, saling menutupi aib pasangan. Tidak ada pernikahan yang tidak ada konflik, tapi agama hadir memang untuk menyelaraskan dan mencari jalan keluar. Jadi, never leave your partner behind, especially on fire.
»»  Selengkapnya...

Jangan Takut pada Dirimu Sendiri






Judul Film: Akeelah and The Bee
Tahun rilis: 2006
Sutradara: Doug Atchison
Produser: Laurence Fishburne, Sid Ganis, Nancy Hult, Daniel Llewelyn, Michael Romersa
Pemeran: Keke Palmer, Laurence Fishburne, Angela Bassett, Curtis Armstrong, J. R. Villareal


***

Film ini salah satu dari sekian film keluarga yang menurut saya sangat memotivasi. Di dalamnya tertutur kisah tentang impian, usaha, persahabatan dan cinta. Hampir tidak ada peran antagonis dalam film ini, karena sang antagonis tidak sejahat cerita dalam film lain.


Akeelah Anderson (Keke Palmer) adalah anak perempuan kulit hitam berusia 11 tahun yang bersekolah di salah satu distrik di negara bagian Los Angeles, Amerika Serikat. Dengan pengalaman kehilangan ayahnya di usia yang sangat muda, dan ibunya ,Tanya Anderson (Angela Basset),  yang sangat sibuk untuk mengurus keempat anaknya, Akeelah tidak pernah merasa mendapat tempat untuk dihargai. Ia tumbuh tanpa rasa percaya diri. Ia seringkali mangkir dari pelajaran, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, serta tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada bidang apapun, walaupun ia selalu mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Bahasa Inggris, terutama untuk spelling (mengeja).


Pada saat di sekolah ada kontes spelling bee (perlombaan mengeja kata dalam bahasa Inggris), guru Bahasa  Inggrisnya menyarankan Akeelah untuk ikut serta, namun ia menolak. Dengan sedikit ancaman, akhirnya kepala sekolah Crenshaw Middle School tempat Akeelah bersekolah, Mr. Welch (Curtis Armstrong) berhasil memaksanya ikut perlombaan tersebut, dan tentu saja ia menang dengan mudah. Pada saat yang bersamaan, sekolah mereka sedang menerima kunjungan dari Dr. Joshua Larabee (Laurence Fishburne), yang tertarik dengan bakat Akeelah. Ia menantang Akeelah untuk mengeja beberapa kata sulit termasuk kata “Pulchritude”. Akeelah berhasil mengejanya, kecuali kata terakhir tersebut. Dengan kemenangannya di lomba Spelling Bee sekolah, Akeelah diberi mandat untuk mewakili sekolahnya di tingkat distrik, namun ia hampir tidak mau mengikutinya. Berkat motivasi dari kakak dan sahabatnya, ia memberanikan diri untuk mendaftarkan diri.


Pada kontes tingkat distrik ia bertemu dengan Javier Mendez (J.R. Villarreal) dan Dylan Chu (Sean Michael Afable), dua orang anak sekolah swasta Woodland Hills yang sudah mempunyai pengalaman banyak dalam kontes spelling bee. Bahkan Dylan sudah dua kali menjadi juara dua pada tingkat Nasional. Singkat cerita, Akeelah, Javier dan Dylan berhasil menang dan maju ke perlombaan spelling bee tingkat negara bagian Los Angeles. Akeelah sedikit beruntung dalam lomba ini karena peserta terakhir yang seharusnya memenangkan lomba, didiskualifikasi karena curang.


Akeelah yang pada awalnya menolak bantuan dari Dr. Larabee akhirnya menyerah dan mengakui bahwa ia butuh guru untuk melatihnya menghadapi perlombaan besar tersebut. Dr. Larabee membantu Akeelah bukan hanya dalam hal mempelajari kata-kata baru, tapi juga membantunya menemukan hal yang ia inginkan. “Aku ingin memenangkan Perlombaan Spelling Bee tingkat Nasional.”, Dr. Larabee berhasil memaksa Akeelah untuk menetapkan tujuan. Lalu, berhasilkah Akeelah memenangkan perlombaan di tingkat negara bagian untuk melaju ke tingkat Nasional? Bagaimana ia kemudian bisa menjembatani antara rasa ibanya terhadap Dylan dan keinginannya untuk menang? Demi melihat usaha Akeelah yang luar biasa untuk memenangkan perlombaan, lingkungannya ikut berubah. Perubahan apa yang terjadi, lalu bisakah dengan perubahan tersebut Akeelah mencapai impiannya? Nonton deh, dijamin terharu :)


Potensi diri. Tidak semua orang dapat menemukan apa yang menonjol dari dirinya, apa kelebihan, dan apa kekurangannya. Dan kalaupun ada orang yang menemukan potensinya sendiri, tidak semua mendapat kesempatan, bisa, atau mau memanfaatkan potensi tersebut, menggenjot usahanya sampai ke tingkatan paling tinggi. Sebagian orang terlalu takut untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa, sebagian yang lain takut terhadap lingkungannya. Tapi film ini menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya usaha, akan membawa kebahagiaan tersendiri pada sang pelaksana. Hasil yang baik sesungguhnya adalah hadiah, bukan semata tujuan dari apa yang kita usahakan.


Film ini juga menunjukkan bahwa kompetisi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam hidup kita, tapi kompetisi bukan berarti harus mencari musuh. Bekerja sama dalam mencapai tujuan, mempunyai nilai tersendiri, dan justru bisa mengubah lawan menjadi kawan. Terakhir, ada kutipan yang saya ambil dari film ini:


“Our deepest fear is not that we are inadequate
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
We ask our selves, ‘Who am I to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?’
Actually, who are you not to be?
We were born to make manifest, the glory of God that is within us
And as we let our own light shine, we unconsiously give other people permission to do the same.”
~Akeelah and The Bee, 2006~


Mudah-mudahan resensi ini cukup lugas untuk mengingatkan dan memotivasi kita semua, bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan tersembunyi. Kekuatan yang siap bersinar, siap dibagi dan memberi jalan pada orang lain untuk ikut bersinar. Wallahua’alam bi showab.
»»  Selengkapnya...